Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 April 2017

Kitab Tauhid 31

╔═════════════ ❁✿❁ ╗
       ❝ KAJIAN  TAUHID ❞
╚═══ ❁✿❁ ══════════╝

Kitab: Al-Mulakhosh fii Syarh Kitabut Tauhid.

Karya: Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah.

PERTEMUAN KE 31

Imam Al-Bukhari dan imam Muslim meriwayatkan dari Sahl bin Sa'd radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda pada perang khaibar, yang artinya:

"Sungguh besok aku akan berikan bendera perang kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul Nya, Allah dan Rasul Nya juga mencintainya. Allah akan berikan kemenangan melalui tangannya."

Maka malam itu para shahabat membahas siapakah yang akan mendapatkan bendera tersebut. Pagi harinya mereka segera menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan masing-masing berharap beliau memberikan bendera itu kepadanya. Lalu beliau bersabda: "Dimana Ali bin Abi Thalib?" Dikatakan bahwa dia sedang sakit mata. Maka para shahabat menjemputnya dan membawa ke hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian beliau meludahi matanya dan mendoakannya. Lalu matanya sembuh bahkan seakan tidak pernah sakit sebelumnya. Kemudian beliau memberikan bendera perang kepadanya dan bersabda:

"Pelan-pelanlah engkau dalam berjalan, sampai engkau tiba di pekarangan mereka. Ajaklah mereka untuk masuk islam. Dan sampaikan kepada mereka tentang hak Allah atas mereka. Demi Allah, Allah memberikan hidayah kepada salah seorang dari mereka melalui tanganmu lebih baik daripada engkau mendapatkan seekor unta merah." Bersambung Insya Allah...

(Mulakhas Syarh Kitab At-Tauhid hal: 57)

✍🏻Diterjemahkan Oleh: Redaktur Saalikat -hafizhahallah-

Dipublikasikan: Kamis, Jumadil Awwal 1438H/ 17 Februari 2017M.

» http://saalikatmanhajsalaf.blogspot.co.id/
» bit.ly/Saalikat_ManhajSalaf

Majmu'ah Saalikat Manhaj Salaf

This entry was posted in

Kitab Tauhid 30

╔═════════════ ❁✿❁ ╗
       ❝ KAJIAN  TAUHID ❞
╚═══ ❁✿❁ ══════════╝

Kitab: Al-Mulakhosh fii Syarh Kitabut Tauhid.

Karya: Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah.

PERTEMUAN KE 30

Pelajaran yang diambil dari hadits (sebelumnya):

1. Disyariatkan untuk mengirim da'i yang mendakwahkan agama Allah.

2. Persaksian Laa ilaha illallah adalah kewajiban yang paling awal. Dan ini adalah perkara pertama yang didakwahkan kepada manusia.

3. Makna syahadat Laa ilaha illallah adalah meng-Esakan Allah dalam ibadah dan meninggalkan peribadahan kepada selainNya.

4. Seorang yang kafir tidak dianggap masuk islam kecuali dengan mengucapkan Laa ilaha illallah.

5. Seseorang bisa saja membaca dan mengenal, namun tidak faham dengan makna Laa ilaha illallah. Atau faham maknanya namun tidak mengamalkannya, seperti keadaan ahli kitab.

6. Berbicara kepada orang yang berilmu tidaklah sama dengan berbicara kepada orang yang bodoh.

7. Peringatan bagi seseorang terlebih lagi seorang da'i, bahwa dia harus memiliki pengetahuan tentang agama supaya bisa menangkal syubhat-syubhat, dan hal itu bisa dilakukan dengan menuntut ilmu.

8. Shalat adalah kewajiban terbesar setelah dua kalimat syahadat.

9. Zakat adalah rukun yang paling utama setelah shalat.

10. Keterangan tentang salah satu golongan yang berhak mendapatkan zakat yaitu orang faqir, dan bolehnya memberikan zakat hanya kepada mereka, tidak kepada golongan lain yang berhak.

11. Tidak boleh mengambil zakat dari harta yang paling berharga kecuali atas ridha pemiliknya.

12. Peringatan dari perbuatan zhalim, dan bahwa doa orang yang terzhalimi adalah doa yang mustajab walaupun dia adalah orang yang bermaksiat. Bersambung insyaAllah...

(Mulakhas Syarh Kitab At-Tauhid hal:56)


✍🏻Diterjemahkan Oleh: Redaktur Saalikat -hafizhahallah-

Dipublikasikan: Rabu, 11 Jumadil Awwal 1438H/ 09 Februari 2017M.

» http://saalikatmanhajsalaf.blogspot.co.id/
» bit.ly/Saalikat_ManhajSalaf

Majmu'ah Saalikat Manhaj Salaf

This entry was posted in

Kitab Tauhid 29

╔═════════════ ❁✿❁ ╗
       ❝ KAJIAN  TAUHID ❞
╚═══ ❁✿❁ ══════════╝

Kitab: Al-Mulakhosh fii Syarh Kitabut Tauhid.

Karya: Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah.

PERTEMUAN KE 29

Makna Hadits Secara Global:

Ketika Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam mengutus Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu untuk berdakwah ke yaman dan mengajari mereka, beliau menentukan langkah yang harus ditempuh.

Beliau menjelaskan bahwa dia akan bertemu suatu kaum yang memiliki ilmu dan bisa berdebat dari kalangan yahudi dan nasrani. Hal itu supaya Mu'adz siap menjawab syubhat mereka. Kemudian beliau memberi tahu perkara yang paling penting untuk mengawali dakwah untuk memperbaiki aqidah mereka. Karena hal itu merupakan pokok dalam kehidupan.

Dan apabila mereka taat maka hendaknya ia memerintahkan mereka untuk menegakkan shalat karena shalat adalah kewajiban yang paling utama setelah tauhid.

Apabila mereka taat maka hendaknya ia memerintahkan orang kaya diantara mereka untuk menyerahkan zakat harta mereka kepada orang miskin. Dalam rangka empati kepada mereka dan mewujudkan rasa syukur kepada Allah. Kemudian beliau memperingatkan agar tidak meminta harta yang berharga (untuk zakat), karena yang wajib adalah mengeluarkan harta yang pertengahan (keadaannya).

Beliau juga menghasung agar Mu'adz berbuat adil dan tidak berbuat dzalim supaya orang yang didzalimi tidak mendoakan kejelekan baginya, karena doa orang yang terdzalimi adalah doa yang mustajab. Bersambung insyaAllah.

(Mulakhas Syarh Kitab At-Tauhid hal: 55-56)

✍🏻Diterjemahkan Oleh: Redaktur Saalikat -hafizhahallah-

Dipublikasikan: Rabu, 04 Jumadil Awwal 1438H/ 01 Februari 2017M.

» http://saalikatmanhajsalaf.blogspot.co.id/
» bit.ly/Saalikat_ManhajSalaf

Majmu'ah Saalikat Manhaj Salaf

This entry was posted in

Kitab Tauhid 28

╔═════════════ ❁✿❁ ╗
       ❝ KAJIAN  TAUHID ❞
╚═══ ❁✿❁ ══════════╝

Kitab: Al-Mulakhosh fii Syarh Kitabut Tauhid.

Karya: Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah.

PERTEMUAN KE 28

Bab Mendakwahkan syahadat Laa ilaha illallah

Dari ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus Mu'adz ke yaman, beliau berpesan yang artinya:

"Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab. Maka hendaknya perkara yang paling awal yang engkau seru kepada mereka adalah Syahadat Laa ilaha illallah. Dalam riwayat yang lain, agar mereka mentauhidkan Allah. Apabila mereka menaatimu dalam hal itu, ajarilah mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam. Dan apabila mereka menaatimu dalam hal itu maka ajarilah mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka membayar shadaqah. Yang diambil dari orang kaya lalu diberikan kepada orang miskin. Apabila mereka menaatimu dalam hal itu maka hati-hatilah engkau dari mengambil harta berharga mereka, dan hati-hatilah dari doa orang yang terdzalimi. Karena tidak ada penghalang antara doa tersebut dengan Allah." (Muttafaqun 'alaihi). Bersambung insyaAllah..

(Mulakhas Syarh Kitab At-Tauhid hal: 54)

Diterjemahkan Oleh: Redaktur Saalikat -hafizhahallah-

Dipublikasikan: Rabu, 27 Rabi'ul Akhir 1438H/ 25 Januari 2017M.

» http://saalikatmanhajsalaf.blogspot.co.id/
» bit.ly/Saalikat_ManhajSalaf

Majmu'ah Saalikat Manhaj Salaf

This entry was posted in

Jumat, 20 Januari 2017

Kitab At Tauhid 27

╔═════════════ ❁✿❁ ╗
       ❝ KAJIAN  TAUHID ❞
╚═══ ❁✿❁ ══════════╝

Kitab: Al-Mulakhosh fii Syarh Kitabut Tauhid.

Karya: Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah.

🗒PERTEMUAN KE 27.

Bab Mendakwahkan syahadat Laa ilaha illallah

Allah ta'ala berfirman:

قل هذه سبيلي أدعو إلى الله على بصيرة أنا ومن اتبعني وسبحان الله وما أنا من المشركين (يوسف: ١٠٨)

Artinya: "Katakanlah ini adalah jalanku aku mendakwahkan kepada tauhid, diatas ilmu, aku dan orang orang yang mengikutiku. Maha Suci Allah dan tidaklah aku termasuk orang musyrik. (Q.S: Yunus: 108)

Makna ayat secara global:

       Allah memerintahkan kepada Rasul Nya agar mengatakan kepada manusia tentang jalan dan sunnah yang beliau tempuh. Yaitu mendakwahkan syahadat Laa ilaha illallah diatas ilmu, keyakinan dan petunjuk. Demikian pula orang-orang yang mengikuti beliau.

      Beliau dan para pengikut beliau juga menyucikan Allah dari segala sekutu kekuasaan Nya dan peribadahan kepada Nya. Juga berlepas diri dari orang-orang yang menyekutukan Nya walaupun mereka adalah kerabat yang paling dekat.

Pelajaran yang diambil dari ayat:

1. Mendakwahkan kepada syahadat Laa ilaha illallah adalah jalan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan pengikut beliau.

2. Seorang da'i wajib berilmu terhadap apa yang ia dakwahkan dan terhadap apa yang ia larang.

3. Peringatan bagi para da'i untuk ikhlas dalam berdakwah. Yaitu tidak ada tujuan dalam berdakwah selain mengharapkan wajah Allah. Bukan untuk mencari harta, kepemimpinan atau pujian manusia. Bukan pula mendakwahkan kelompok atau madzhab tertentu.

4. Adanya bashiroh merupakan suatu kewajiban. Karena mengikuti Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam adalah sesuatu yang wajib, dan mengikuti beliau tidaklah terealisasi melainkan dengan adanya bashiroh yaitu ilmu dan keyakinan.

5. Kebagusan tauhid karena berarti menyucikan Allah.

6. Buruknya syirik karena berarti mencela Allah.

7. Wajibnya bagi seorang muslim untuk menjauhkan diri dari pelaku kesyirikan. Bukan hanya sekedar tidak melakukan kesyirikan. Bersambung Insya Allah...

(Mulakhas Syarh Kitab At-Tauhid hal: 51-53)
Diterjemahkan Oleh: Redaktur Saalikat -hafizhahallah-

Dipublikasikan: Rabu, 20 Rabi'ul Akhir 1438H/ 18 Januari 2017M.

» http://saalikatmanhajsalaf.blogspot.co.id/
» bit.ly/Saalikat_ManhajSalaf

Saalikat Manhaj Salaf

This entry was posted in

Kitab At Tauhid 26

╔═════════════ ❁✿❁ ╗
       ❝ KAJIAN  TAUHID ❞
╚═══ ❁✿❁ ══════════╝

Kitab: Al-Mulakhosh fii Syarh Kitabut Tauhid.

Karya: Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah.


🗒PERTEMUAN KE 26.

Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Jabir radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

"Barang siapa yang bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak menyekutukan Nya dengan sesuatu pun, akan masuk surga. Dan barang siapa yang bertemu dengan Allah dalam keadaan menyekutukanNya dengan sesuatu, maka akan masuk neraka."

Makna hadits secara global:

     Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan kepada kita bahwa barang siapa yang meninggal diatas tauhid maka tempat kembalinya adalah surga, pasti. Apabila dia pelaku dosa besar dan meninggal dalam keadaan masih terjerumus di dalamnya, maka ia berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah mengampuni maka ia masuk surga dari awal. Namun jika tidak diampuni maka ia disiksa di neraka kemudian dikeluarkan darinya dan dimasukkan ke dalam surga.

Dan barang siapa yang mati diatas kesyirikan (syirik besar), maka ia akan masuk neraka dan tidak mendapatkan rahmat dari Allah serta ia kekal di dalamnya.

Apabila yang ia lakukan adalah syirik kecil, maka ia akan masuk neraka -apabila tidak ada kebaikan yang memberatkan timbangannya - akan tetapi ia tidak kekal di dalamnya.

Pelajaran yang bisa diambil dari hadits:

1. Wajibnya takut terhadap kesyirikan, karena syarat keselamatan dari neraka adalah terlepas dari kesyirikan.

2. Yang dipandang bukanlah banyaknya amalan, namun selamatnya seseorang dari dosa syirik.

3. Keterangan makna Laa ilaha illallah, yaitu meninggalkan kesyirikan dan mengesakan Allah dalam peribadahan.

4. Dekatnya surga dan neraka dari seorang hamba. Yaitu tidak ada batasan antara dia dengan keduanya melainkan kematian.

5. Keutamaan orang yang selamat dari kesyirikan. Bersambung insya Allah.

(Mulakhas Syarh Kitab At-Tauhid hal: 49-50 )
Diterjemahkan Oleh: Redaktur Saalikat -hafizhahallah-

Dipublikasikan: Rabu, 5 Rabi'ul Akhir 1438H/ 4 Januari 2017M.

» http://saalikatmanhajsalaf.blogspot.co.id/
» bit.ly/Saalikat_ManhajSalaf

Saalikat Manhaj Salaf

This entry was posted in

Kitab At Tauhid 24

╔═════════════ ❁✿❁ ╗
       ❝ KAJIAN  TAUHID ❞
╚═══ ❁✿❁ ══════════╝

Kitab: Al-Mulakhosh fii Syarh Kitabut Tauhid.

Karya: Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah.

Rabu, 15 Rabi'ul Awwal 1438H/ 14 Desember 2016.

🗒PERTEMUAN KE 24.

Dalam sebuah hadits (Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya):

"Kekhawatiran yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil. Dan beliau ditanya tentang syirik kecil, beliau menjawab, Riya'." (H.R. Imam Ahmad dan Ath-Thabrani)

Makna hadits secara global:

   Karena sempurnanya kasih sayang beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dan ketulusan beliau terhadap umat ini, maka tidaklah ada satu kebaikan pun melainkan beliau menunjukkannya kepada umat, dan tidak ada satu kejelekan pun melainkan beliau telah memperingatkan umat darinya.

    Dan diantara kejelekan yang beliau peringatkan adalah menampakkan ibadah dengan tujuan agar mendapatkan pujian dari manusia. Karena perbuatan demikian merupakan syirik dalam ibadah.

     Walaupun hal itu termasuk syirik kecil, namun bahayanya besar. Karena bisa membatalkan amalan yang ia kerjakan. Dan tatkala jiwa ini cenderung menyukai kepemimpinan dan kedudukan di hati makhluk yang lain (kecuali orang-orang yang diselamatkan oleh Allah), maka riya merupakan perkara yang paling dikhawatirkan bisa menimpa orang shalih, karena besarnya pendorong untuk melakukannya.

     Berbeda dengan pendorong untuk melakukan syirik besar, bisa sama sekali tidak ada pada diri seorang mukmin atau bisa jadi pendorong tersebut lemah.

Pelajaran yang diambil dari hadits:

1. Besarnya kekhawatiran terjatuh pada syirik kecil.

Hal ini karena dua hal:

- Karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sangat mengkhawatirkan hal itu.

- Beliau mengkhawatirkan hal itu terjadi pada orang shalih, maka seseorang yang tidak shalih lebih dikhawatirkan terjatuh padanya.

2. Besarnya kasih sayang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap umat dan semangat beliau dalam memberikan petunjuk dan nasihat kepada mereka.

3. Syirik terbagi menjadi dua: Syirik besar dan Syirik kecil.

Syirik besar adalah menyamakan selain Allah dengan Allah pada perkara² yang khusus bagi Allah.

Syirik kecil adalah perbuatan yang disebutkan dalam nash sebagai perbuatan syirik, namun tidak sampai pada syirik besar.

Perbedaan keduanya adalah:

- Syirik besar membatalkan seluruh amalan, sementara syirik kecil hanya membatalkan amalan yang terjangkiti syirik kecil tersebut.

- Pelaku syirik besar kekal di neraka, namun syirik kecil tidak mengakibatkan kekal di neraka.

- Syirik besar mengeluarkan dari agama,

- Sementara syirik kecil tidak mengeluarkan dari agama. Bersambung insya Allah..

(Mulakhas Syarh Kitab At-Tauhid hal: 45-46)
Diterjemahkan Oleh: Redaktur Saalikat -hafizhahallah-.

» http://saalikatmanhajsalaf.blogspot.co.id/
» bit.ly/Saalikat_ManhajSalaf

Saalikat Manhaj Salaf

This entry was posted in

Kitab At Tauhid 25

╔═════════════ ❁✿❁ ╗
       ❝ KAJIAN  TAUHID ❞
╚═══ ❁✿❁ ══════════╝

Kitab: Al-Mulakhosh fii Syarh Kitabut Tauhid.

Karya: Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah.

Rabu, 22 Rabi'ul Awwal 1438H/ 21 Desember 2016.

🗒PERTEMUAN KE 25.

Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

"Barang siapa yang meninggal dalam keadaan berdoa kepada selain Allah maka dia akan masuk neraka." (Muttafaqun 'alaihi)

Makna hadits secara global:

🕯   Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan bahwa barangsiapa yang menjadikan ada tandingan bagi Allah (baik yang dijadikan tandingan tersebut adalah seorang nabi atau yang lainnya) dalam beribadah kemudian dia berdoa dan meminta kepada tandingan tersebut, dan dia terus melakukan hal itu sampai mati dan tidak bertaubat sebelum mati, maka tempat kembalinya adalah Neraka, karena dia seorang musyrik.

Menjadikan tandingan bagi Allah ada dua macam:

1. Menjadikan ada sekutu bagi Allah dalam seluruh atau sebagian ibadah, maka hal ini adalah syirik besar dan pelakunya kekal di neraka.

2. Melakukan perbuatan yang termasuk syirik kecil, misalnya mengatakan "atas kehendak Allah dan kehendakmu" atau ucapan " Seandainya bukan karena Allah dan kamu " dan ucapan lain yang semisalnya, yang menggabungkan Allah dengan yang lainnya menggunakan kata "dan", juga seperti melakukan amalan riya'.

Maka yang seperti ini tidak menyebabkan kekal di neraka walaupun pelakunya masuk ke dalamnya.

Pelajaran yang diambil dari hadits:

1. Peringatan dari perbuatan syirik dan hasungan agar bertaubat darinya sebelum meninggal.

2. Bahwa seseorang yang berdoa kepada nabi atau wali baik masih hidup atau sudah meninggal, atau berdoa kepada batu atau pohon, maka dia telah menjadikan ada tandingan bagi Allah.

3. Perbuatan syirik tidak diampuni kecuali setelah bertaubat. Bersambung insya Allah..

(Mulakhas Syarh Kitab At-Tauhid hal: 47-48)
Diterjemahkan Oleh: Redaktur Saalikat -hafizhahallah-.

» http://saalikatmanhajsalaf.blogspot.co.id/
» bit.ly/Saalikat_ManhajSalaf

Saalikat Manhaj Salaf

This entry was posted in

Kitab At Tauhid 23

╔═════════════ ❁✿❁ ╗
       ❝ KAJIAN  TAUHID ❞
╚═══ ❁✿❁ ══════════╝

Kitab: Al-Mulakhosh fii Syarh Kitabut Tauhid.

Karya: Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah.

Rabu, 07 Rabi'ul Awwal 1438H/ 07 Desember 2016.

🗒PERTEMUAN KE 23.

Pelajaran yang bisa diambil dari kedua ayat (pada pertemuan sebelumnya):

1. Sesungguhnya perbuatan syirik adalah dosa yang paling besar, karena Allah ta'ala mengabarkan bahwa Dia tidak mengampuni pelakunya yang belum bertaubat.

2. Dosa-dosa selain syirik, apabila pelakunya belum bertaubat maka tergantung pada kehendak Allah. Apabila Allah berkehendak dia bisa diampuni tanpa taubat. Namun apabila Allah berkehendak yang lain maka dia diadzab karena dosa tersebut. Dalam perjalanan ini ada petunjuk tentang bahaya kesyirikan.

3. Hendaknya kita takut (khawatir) terjatuh dalam kesyirikan, karena Nabi Ibrahim 'alaihis salam yang merupakan imam agama hanifiyah dan yang menghancurkan berhala dengan tangan beliau, tetap khawatir diri beliau terjatuh pada kesyirikan, maka bagaimana dengan orang-orang selain beliau.

4. Disyariatkan berdoa untuk menolak keburukan karena seorang hamba sangat butuh terhadap Rabbnya.

5. Disyariatkan berdoa untuk diri sendiri dan keturunannya.

6. Dalam firman Allah ini ada bantahan terhadap orang-orang bodoh yang mengatakan bahwa kesyirikan tidak akan terjadi pada umat ini. Sehingga mereka merasa aman dan malah terjatuh padanya. Bersambung insya Allah..

(Mulakhas Syarh Kitab At-Tauhid hal: 43-44)
Diterjemahkan Oleh: Redaktur Saalikat.

» http://saalikatmanhajsalaf.blogspot.co.id/
» bit.ly/Saalikat_ManhajSalaf

Saalikat Manhaj Salaf

This entry was posted in

Kitab At Tauhid 22

╔═════════════ ❁✿❁ ╗
       ❝ KAJIAN  TAUHID ❞
╚═══ ❁✿❁ ══════════╝

Kitab: Al-Mulakhosh fii Syarh Kitabut Tauhid.

Karya: Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah.

Rabu, 30 Shafar 1438H/ 30 November 2016.

🗒PERTEMUAN KE 22.

Bab Takut (khawatir) Terhadap Dosa Syirik

Allah 'azza wa jalla berfirman:

إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء (النساء: ٤٨)

Artinya: Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Allah mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Ia kehendaki. (Q.S An-Nisa': 48)

Dan Allah juga berfirman tentang ucapan Al-khalil (Nabi Ibrahim) 'alaihis salam:

واجنبني و بني أن نعبد الأصنام (إبراهم: ٣٥)

Artinya: Dan jauhkan saya beserta anak keturunan saya dari perbuatan menyembah berhala. (Q.S Ibrohim: 35)

Makna Ayat Pertama Secara Global:

Allah subhanahu wa ta'ala mengabarkan dengan kabar yang disertai penekanan, bahwa Dia tidak mengampuni seorang hamba yang bertemu dengan Nya dalam keadaan menyekutukan Nya, hal ini untuk memperingatkan kita dari perbuatan syirik. Dan bahwa Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang DIA kehendaki, hal ini sebagai keutamaan dan kebaikan dari Nya supaya seseorang tidak putus asa dari kasih sayang Allah.

Makna ayat kedua secara global:

Sesungguhnya Al-khalil Ibrahim 'alaihis salam berdoa kepada Rabb Nya 'azza wa jalla agar menjadikan beliau dan keturunan beliau jauh dari peribadahan kepada berhala. Karena fitnah yang ditimbulkan dari perbuatan tersebut sangatlah besar dan seseorang tidaklah aman dari perbuatan tersebut. Bersambung insya Allah..

(Mulakhas Syarh Kitab At-Tauhid hal: 42-43)
Diterjemahkan Oleh: Redaktur Saalikat.

» http://saalikatmanhajsalaf.blogspot.co.id/
» bit.ly/Saalikat_ManhajSalaf

Saalikat Manhaj Salaf

This entry was posted in

Kitab At Tauhid 21

╔═════════════ ❁✿❁ ╗
       ❝ KAJIAN  TAUHID ❞
╚═══ ❁✿❁ ══════════╝

Kitab: Al-Mulakhosh fii Syarh Kitabut Tauhid.

Karya: Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah.

Rabu, 23 Shafar 1438H/ 23 November 2016.

PERTEMUAN KE 21🖇

(Lanjutan) Pelajaran Yang Diambil dari hadits (pertemuan sebelumnya):

14. Keutamaan dan pahala yang didapat dari merealisasikan tauhid.

15. Bolehnya melakukan pembahasan tentang ilmu syar'i untuk mendapatkan sebuah pelajaran dan menampakkan kebenaran.

16. Kedalaman ilmu para salaf, dimana mereka mengetahui bahwa golongan orang yang disebut dalam hadits tidaklah mendapatkan kedudukan tersebut kecuali dengan amalan.

17. Besarnya semangat para salaf dalam kebaikan dan berlomba dalam beramal shalih.

18. Meninggalkan ruqyah dan kay termasuk perbuatan merealisasikan tauhid.

19. Bolehnya minta didoakan oleh orang yang memiliki keutamaan selama mereka masih hidup.

20. Dalam hadits tersebut terdapat salah satu tanda kenabian Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam dimana beliau mengabarkan bahwa Ukasyah termasuk dalam 70 ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Dan Ukasyah radhiyallahu 'anhu wafat sebagai syahid pada perang melawan orang-orang yang murtad.

21. Keutamaan yang dimiliki Ukasyah bin Mihshon radhiyallahu 'anhu.

22. Bolehnya memakai ma'aridh, dan baiknya akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dimana beliau tidak mengatakan kepada orang yang minta didoakan "engkau tidak termasuk mereka".

23. Menutup pintu/celah supaya tidak ada orang berikutnya yang minta untuk didoakan padahal dia tidak termasuk dalam golongan tersebut. Allahu A'lam. Bersambung insya Allah..

(Mulakhas Syarh Kitab At-Tauhid hal: 41)
Diterjemahkan Oleh: Redaktur Saalikat.

» http://saalikatmanhajsalaf.blogspot.co.id/
» bit.ly/Saalikat_ManhajSalaf

Saalikat Manhaj Salaf

This entry was posted in

Rabu, 16 November 2016

Kitab At Tauhid 20

╔═════════════ ❁✿❁ ╗
       ❝ KAJIAN  TAUHID ❞
╚═══ ❁✿❁ ══════════╝

Kitab: Al-Mulakhosh fii Syarh Kitabut Tauhid.

Karya: Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah.

Rabu, 16 Shafar 1438H/ 16 November 2016

PERTEMUAN KE 20🖇

Pelajaran yang diambil dari hadits (pertemuan sebelumnya):

1. Keutamaan salaf, mereka memandang tanda-tanda yang ada di langit bukanlah sekedar sebagai kebiasaan, namun mereka mengetahui bahwa hal itu adalah salah satu dari tanda kekuasaan Allah.

2. Besarnya semangat salaf untuk ikhlas dan sangat jauhnya mereka dari riya'.

3. Meminta hujjah terhadap pembenaran suatu pemikiran. Dan perhatian salaf terhadap dalil.

4. Disyariatkannya berhenti diatas dalil dan beramal berdasarkan ilmu. Dan seseorang yang beramal berdasarkan dalil yang telah sampai padanya, maka ia telah berbuat baik.

5. Menyampaikan ilmu dengan lembut dan penuh hikmah.

6. Bolehnya ruqyah.

7. Membimbing seseorang yang telah beramal sesuai syariat agar melakukan hal yang lebih utama.

8. Keutamaan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dimana diperlihatkan umat-umat kepada beliau.

9. Para nabi berbeda-beda dalam hal jumlah pengikut mereka.

10. Bantahan bagi orang yang berhujjah dengan banyaknya pengikut, serta orang yang menganggap bahwa kebenaran diukur dengan banyaknya pengikut.

11. Kewajiban mengikuti kebenaran walaupun pengikutnya hanya sedikit.

12. Keutamaan Nabi Musa 'alaihis salam.

13. Keutamaan umat ini dan bahwa jumlah mereka adalah yang terbanyak sebagai pengikut Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Bersambung insya Allah..

(Mulakhas Syarh Kitab At-Tauhid hal: 40)
Diterjemahkan Oleh: Redaktur Saalikat.

» http://saalikatmanhajsalaf.blogspot.co.id/
» bit.ly/Saalikat_ManhajSalaf

Majmu'ah Saalikat Manhaj Salaf

This entry was posted in

Kitab At Tauhid 19

╔═════════════ ❁✿❁ ╗
       ❝ KAJIAN  TAUHID ❞
╚═══ ❁✿❁ ══════════╝

Kitab: Al-Mulakhosh fii Syarh Kitabut Tauhid.

Karya: Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah.

Rabu, 09 Shafar 1438H/ 09 November 2016.

PERTEMUAN KE 19🖇

Makna Hadits Secara Global:

Hushain bin Abdirrohman menggambarkan perbincangan yang terjadi di majlis Sa'id bin Jubair tentang peristiwa bintang jatuh tadi malam.

Lalu Hushain menyampaikan kepada mereka bahwa dirinya menyaksikan hal itu karena malam itu ia tidak sedang tidur.
Kemudian dia khawatir orang-orang menyangka bahwa saat itu dirinya sedang shalat malam, karena itu ia ingin menyangkal persangkaan mereka perihal ibadah yang tidak ia lakukan.

Hal ini sebagaimana kebiasaan yang dilakukan salafus saleh dalam hal semangat mereka untuk ikhlas.

Oleh karena itu ia mengatakan alasan sebenarnya yang membuat ia terjaga malam itu, Yaitu karena ia disengat binatang.

🏼Maka pembicaraanpun beralih pada pertanyaan tentang apa yang ia lakukan setelah disengat. Lalu Hushain mengatakan bahwa ia mengobatinya dengan ruqyah. Kemudian Sa'id bertanya tentang dalil syar'i atas perbuatan yang ia lakukan.

Lalu Hushain menyampaikan hadits yang datang dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang bolehnya ruqyah.

Dan Sa'id pun membenarkan perbuatannya yang dilandasi dalil. Kemudian Sa'id menyampaikan keadaan yang lebih baik daripada yang ia lakukan. Yaitu mencapai kesempurnaan tauhid dengan cara meninggalkan hal-hal yang makruh pada saat dibutuhkan, dalam rangka tawakal kepada Allah. Sebagaimana keadaan tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksaan. Dimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan diantara sifat mereka adalah:

"Tidak minta diruqyah dan di kay.." hal ini dalam rangka untuk merealisasikan tauhid. Mereka memilih sebab yang lebih kuat yaitu bertawakal kepada Allah dan tidak meminta kepada seorangpun untuk meruqyah dirinya. Terlebih lagi meminta kepada orang lain perkara yang lebih dari itu. Bersambung insya Allah..

(Mulakhas Syarh Kitab At-Tauhid hal: 39-40)
Diterjemahkan Oleh: Redaktur Saalikat.

» http://saalikatmanhajsalaf.blogspot.co.id/
» bit.ly/Saalikat_ManhajSalaf

Majmu'ah Saalikat Manhaj Salaf

This entry was posted in

Kitab At Tauhid 18

╔═════════════ ❁✿❁ ╗
       ❝ KAJIAN  TAUHID ❞
╚═══ ❁✿❁ ══════════╝

Kitab: Al-Mulakhosh fii Syarh Kitabut Tauhid.

Karya: Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah.

PERTEMUAN KE 18🖇

Dari Hushain bin Abdirrahman, dia berkata:

Aku pernah berada di sisi Sa'id bin Jubair, lalu dia berkata: "Siapakah diantara kalian yang tadi malam melihat bintang jatuh?",
Kemudian aku menjawab: "Saya."
Lalu aku berkata lagi: "Saat itu saya tidak sedang shalat malam, akan tetapi karena saya disengat binatang."
Sa'id berkata: "Lalu apa yang kamu lakukan?"
Aku menjawab: "Saya mencari orang untuk meruqyah saya."
Sa'id berkata: "Apa yang membuatmu melakukan hal itu?"
Aku menjawab: "Karena sebuah hadits dari Asy-Sya'bi."
Sa'id berkata: "Apa yang ia sampaikan kepada kalian?"
Aku menjawab: "Buraidah bin Al-Hushaib menyampaikan hadits kepada kami bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

"Tidak ada ruqyah kecuali pada penyakit 'ain dan (karena) disengat."

⏯Sa'id berkata: "Sungguh bagus seseorang yang beramal sesuai apa yang ia dengar (berdasarkan dalil, pent). Akan tetapi Ibnu Abbas telah menyampaikan kepadaku bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): 

"Diperlihatkan umat-umat kepadaku, lalu aku melihat seorang nabi yang memiliki beberapa orang pengikut. Dan seorang nabi yang memiliki seorang dan dua orang pengikut. Bahkan ada seorang nabi yang tidak memiliki satu pengikut pun. Kemudian diperlihatkan kepadaku umat yang banyak, aku menyangka bahwa mereka adalah umatku. Lalu dikatakan kepadaku bahwa ini adalah Musa dan pengikutnya. Setelah itu aku melihat umat yang banyak, lalu dikatakan kepadaku ini adalah umatmu. Diantara mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa dihisab dan tanpa disiksa."

Setelah itu Rasulullah bangkit dan masuk ke rumah beliau. Maka para shahabat membahas tentang tujuh puluh ribu orang tersebut. Sebagian berkata: "Mungkin mereka adalah para shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." Sebagian lagi mengatakan: "Mungkin mereka adalah orang-orang yang lahir dalam keadaan islam dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun." Sebagian lagi menyebutkan yang lainnya.

Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang dan menyampaikan siapakah mereka. Beliau bersabda (yang artinya):

"Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak minta dikay dan bertathayyur dan hanya kepada Allah mereka bertawakal."

Lalu Ukasyah bin Mihshan berdiri dan berkata: "(Wahai Rasulullah) berdoalah kepada Allah agar menjadikan saya termasuk dari mereka."
Lalu beliau berkata: "Engkau termasuk dari mereka."

Kemudian ada orang lain yang berdiri dan berkata: "(Wahai Rasulullah) berdoalah kepada Allah agar menjadikan saya termasuk dari mereka. Lalu beliau bersabda: Ukasyah telah mendahuluimu." (muttafaqun 'alaihi)

Bersambung insya Allah..

(Mulakhas Syarh Kitab At-Tauhid hal:36-37)

____________
Diterjemahkan Oleh: Redaktur Saalikat.

Rabu, 02 Shafar 1438H/ 02 November 2016.

» http://saalikatmanhajsalaf.blogspot.co.id/
» bit.ly/Saalikat_ManhajSalaf

Majmu'ah Saalikat Manhaj Salaf

This entry was posted in

Kitab At Tauhid 17

╔═════════════ ❁✿❁ ╗
       ❝ KAJIAN  TAUHID ❞
╚═══ ❁✿❁ ══════════╝

Kitab: Al-Mulakhosh fii Syarh Kitabut Tauhid.

Karya: Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah.

PERTEMUAN KE 17

Bab Barangsiapa Yang Merealisasikan Tauhid Akan Masuk Surga Tanpa Hisab

Allah ta'ala berfirman:

إن إبرهيم كان أمة قانتا لله حنيفاو لم يك من المشركين (النحل: ١٢٠)

"Sesungguhnya Ibrohim adalah teladan yang senantiasa taat kepada Allah, seorang yang Hanif (menghadap kepada Allah dan berpaling dari selain Allah), dan tidaklah ia termasuk orang-orang musyrik." (Q.S An-Nahl: 120)

Dan Allah juga berfirman:

والذين هم بربهم لا يشركون (المؤمنون: ٥٩)

"Dan mereka adalah orang-orang yang tidak menyekutukan Rabb mereka."  (Al-Mukminun: 59)

Makna Ayat Secara Global:

Ayat Pertama: Allah memberikan kepada kekasih Nya Ibrahim 'alaihis salam empat sifat:

1. Beliau adalah Qudwah dalam kebaikan karena sempurnanya beliau pada kedudukan sabar dan yakin, yang mana dengan dua hal itu akan didapatkan kepemimpinan dalam agama.

2. Beliau adalah orang yang khusyu', taat selalu beribadah kepada Allah ta'ala.

3. Beliau adalah orang yang berpaling dari kesyirikan dan menghadap kepada Allah.

4. Jauhnya beliau dari kesyirikan dan terpisahnya beliau dari orang-orang musyrik.

Pelajaran Yang Diambil Dari Kedua Ayat:

▫1. Keutamaan yang dimiliki Nabi Ibrahim 'alaihis sholatu wassalam.

▫2. Mencontoh beliau dalam sifat-sifat yang agung ini.

▫3. Keterangan tentang sifat-sifat yang menyempurnakan perealisasian tauhid.

▫4. Wajibnya menjauhi kesyirikan dan orang musyrik, serta berlepas diri dari mereka.

▫5. Salah satu sifat seorang mukmin adalah merealisasikan tauhid.

Bersambung insya Allah..

(Mulakhos Syarh Kitab At-Tauhid hal:34-35)

____________
Diterjemahkan Oleh: Redaktur Saalikat

•Dipublikasikan: Rabu 18 Al-Muharram 1438 H / 19 Oktober 2016 M.

» http://saalikatmanhajsalaf.blogspot.co.id/
» bit.ly/Saalikat_ManhajSalaf

Majmu'ah Saalikat_ManhajSalaf

This entry was posted in

Kitab At Tauhid 16

╔═════════════ ❁✿❁ ╗
       ❝ KAJIAN  TAUHID ❞
╚═══ ❁✿❁ ══════════╝

Kitab: Al-Mulakhosh fii Syarh Kitabut Tauhid.

Karya: Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah.

PERTEMUAN KE 16

Al-Imam at-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits, dan beliau menghasankannya, dari Anas radhiyallahu 'anhu berkata:

Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

Allah ta'ala berfirman:

"Wahai anak adam! Seandainya engkau datang kepada Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau bertemu dengan Ku dalam keadaan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatupun, sungguh Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula."

Makna hadits secara global:

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan dari Rabbnya 'Azza wa Jalla, bahwa Ia berbicara dengan para hamba Nya dan menerangkan kepada mereka keluasan keutamaan dan kasih sayang Nya. Dan bahwa Ia mengampuni dosa sebanyak apapun, selama bukan dosa syirik. Hadits ini semisal dengan firman Allah ta'ala:

إن الله لا يغفر أن يشرك به و يغفر ما دون ذلك لمن يشاء

"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni apabila Ia disekutukan, dan Allah mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Ia kehendaki."

Pelajaran yang diambil dari hadits:

✔1. Keutamaan tauhid dan banyaknya pahala yang didapat darinya.

✔2. Luasnya keutamaan Allah, kedermawanan Nya, kasih sayang dan ampunan Nya.

✔3. Bantahan terhadap khowarij yang mengkafirkan pelaku dosa besar selain syirik.

✔4. Penetapan sifat Berbicara bagi Allah 'Azza wa Jalla yang sesuai dengan kemuliaan Nya.

✔5. Keterangan makna Laa ilaha illallah, yaitu meninggalkan kesyirikan sedikit ataupun banyak. Bukan hanya sekedar mengucapkannya dengan lisan.

✔6. Penetapan adanya kebangkitan, perhitungan dan pembalasan amalan.

Bersambung insya Allah..

(Mulakhos Syarh Kitab At-Tauhid hal:32-33)

____________
Diterjemahkan Oleh: Redaktur Saalikat

•Dipublikasikan: Rabu, 11 Al Muharram 1438H/ 12 Oktober 2016M.

» http://saalikatmanhajsalaf.blogspot.co.id/
» bit.ly/Saalikat_ManhajSalaf

Majmu'ah Saalikat_ManhajSalaf

This entry was posted in

Minggu, 06 November 2016

Kitab At Tauhid 15

╔═════════════ ❁✿❁ ╗
       ❝ KAJIAN  TAUHID ❞
╚═══ ❁✿❁ ══════════╝

Kitab: Al-Mulakhosh fii Syarh Kitabut Tauhid.

Karya: Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah.

PERTEMUAN KE 15🖇

Pelajaran yang diambil dari hadits (pertemuan sebelumnya):

1. Besarnya keutamaan kalimat Laa ilaha illallah, karena mengandung tauhid dan ikhlas.

2. Keutamaan Nabi Musa 'alaihis salam dan semangat beliau untuk mendekatkan diri kepada Allah.

3. Ibadah tidak boleh dilaksanakan kecuali sesuai dengan syariat Allah. Sehingga tidak boleh bagi seseorang mengadakan kebid'ahan dari dirinya. Karena dalam hadits tersebut, Nabi Musa memohon kepada Allah agar mengajari kalimat untuk berdzikir.

4. Sesuatu yang sangat dibutuhkan maka hal itu banyak didapatkan. Ketika kalimat Laa ilaha illallah sangat dibutuhkan oleh alam ini, maka dzikir tersebut banyak dan mudah dijumpai.

5. Sesungguhnya Allah ada di atas langit, berdasarkan firman Nya: "Dan penduduk langit selain Aku."

6. Semestinya dzikir tersebut diucapkan seluruhnya. Bukan hanya mengucapkan lafdzul jalalah Allah, sebagaimana hal ini dilakukan sebagian orang yang tidak mengerti.

7. Penetapan adanya timbangan amalan.

8. Para Nabi membutuhkan pengingatan akan keutamaan Laa ilaha illallah.

9. Bahwasanya bumi ada 7 sebagaimana langit.

Bersambung insya Allah..

(Mulakhos Syarh Kitab At-Tauhid hal:31)
✍🏻Diterjemahkan Oleh: Redaktur Saalikat

•Dipublikasikan: Kamis, 05 Al Muharram 1438 H / 06 Oktober 2016M.

» http://saalikatmanhajsalaf.blogspot.co.id/
» bit.ly/Saalikat_ManhajSalaf

Majmu'ah Saalikat Manhaj Salaf

This entry was posted in

Kitab At Tauhid ke 14

╔═════════════ ❁✿❁ ╗
       ❝ KAJIAN  TAUHID ❞
╚═══ ❁✿❁ ══════════╝

Kitab: Al-Mulakhosh fii Syarh Kitabut Tauhid.

Karya: Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah.

PERTEMUAN KE 14

Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu,

"Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

Musa berkata: "Wahai Rabbku, ajarkan aku sesuatu yang (dengannya) aku bisa mengingat-Mu dan berdoa kepada Mu."

Allah berfirman: "Katakanlah wahai Musa, Laa ilaha illallah."

Musa berkata: "Wahai Rabbku, setiap hamba-Mu (sudah banyak) yang mengucapkan kalimat itu."

Allah berfirman: " Wahai Musa, seandainya ketujuh langit beserta penduduknya selain Aku, dan ketujuh bumi diletakkan pada salah satu anak timbangan, dan kalimat Laa ilaha illallah pada anak timbangan yang lain, niscaya akan lebih berat kalimat Laa ilaha illallah."

(Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim, dan Al-Hakim menshohihkannya).

Makna hadits secara global:

✍🏻Nabi Musa 'alaihis salam meminta kepada Rabbnya 'azza wa jalla untuk mengajari sebuah dzikir yang bisa dijadikan sebagai wasilah kepada Nya. Kemudian Allah membimbing beliau agar mengucapkan Laa ilaha illallah. Namun Nabi Musa telah mendapati bahwa kalimat itu sudah sering diucapkan oleh manusia, beliau menginginkan dzikir khusus yang berbeda dengan lainnya. Lalu Allah menerangkan tentang besarnya keutamaan dzikir tersebut dan bahwa tidak ada yang bisa menandingi keutamaan ini.

Bersambung insya Allah..

(Mulakhos Syarh Kitab At-Tauhid hal:30-31)
✍🏻Diterjemahkan Oleh: Redaktur Saalikat

•Dipublikasikan: Kamis, 27 Dzulhijjah 1437 H / 29 September 2016 M​.

» http://saalikatmanhajsalaf.blogspot.co.id/
» bit.ly/Saalikat_ManhajSalaf

Majmu'ah Saalikat Manhaj Salaf

This entry was posted in

Kitab At Tauhid 13

╔═════════════ ❁✿❁ ╗
       ❝ KAJIAN  TAUHID ❞
╚═══ ❁✿❁ ══════════╝

Kitab: Al-Mulakhosh fii Syarh Kitabut Tauhid.
Karya: Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah.

PERTEMUAN KE 13

Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Itban.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

"Sesungguhnya Allah mengharamkan bagi neraka, orang-orang yang mengucapkan Laa ilaha illallah dengan mengharapkan wajah Allah."

Makna hadits secara global:

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengabarkan bahwa barangsiapa yang mengucapkan kalimat Laa ilaha illallah dengan ikhlas, lalu menjauhi perbuatan syirik secara lahir dan batin, kemudian meninggal dalam keadaan demikian, maka nanti pada hari kiamat dia tidak akan disentuh oleh api neraka.

Pelajaran yang bisa diambil dari hadits:

1. Keutamaan tauhid yaitu bisa menyelamatkan dari neraka menghapuskan dosa-dosa.

2. Iman tidaklah cukup hanya dengan ucapan tanpa keyakinan di dalam hati. Karena hal itu seperti keadaan orang-orang munafik.

3. Iman tidaklah cukup hanya dengan keyakinan tanpa ucapan. Karena hal itu seperti keadaan para pengingkar.

4. Neraka diharamkan bagi orang-orang yang melaksanakan tauhid secara sempurna.

5. Sebuah amalan tidaklah bermanfaat. Kecuali bila dilakukan dengan ikhlas mengharapkan wajah Allah dan tepat sesuai sunnah Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam.

6. Orang yang mengucapkan Laa ilaha illallah namun tetap berdoa kepada selain Allah, maka ucapan tersebut tidak bermanfaat baginya. Hal ini seperti keadaan para penyembah kuburan saat ini, mereka mengucapkan Laa ilaha illallah namun tetap berdoa kepada mayit dan mendekatkan diri kepada mereka.

7. Penetapan wajah bagi Allah ta'ala yang sesuai dengan Kemuliaan dan Keagungan Nya.

Bersambung insya Allah..

(Mulakhos Syarh Kitab At-Tauhid hal:28-29)
✍🏻Diterjemahkan Oleh: Redaktur Saalikat

•Dipublikasikan: Rabu, 19 Dzulhijjah 1437 H / 21 September 2016 M​.

» http://saalikatmanhajsalaf.blogspot.co.id/
» bit.ly/Saalikat_ManhajSalaf

Saalikat Manhaj Salaf

This entry was posted in

Jumat, 09 September 2016

Kitab At Tauhid 12

╔═════════════ ❁✿❁ ╗
       ❝ KAJIAN  TAUHID ❞
╚═══ ❁✿❁ ══════════╝

Kitab: Al-Mulakhosh fii Syarh Kitabut Tauhid.
Karya: Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah.

--------------------------------------🎀

PERTEMUAN KE 12

Dari Ubadah bin Ash-Shomit radhiyallahu anhu berkata:

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

"Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, bersaksi bahwa Isa adalah hamba Allah dan utusanNya serta kalimat-Nya yang Allah utus kepada Maryam dan ruh yang Ia ciptakan, bersaksi bahwa surga dan neraka adalah benar adanya, Allah akan masukkan ia ke dalam surga apapun amalannya." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.)

Makna Hadits Secara Global:

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan kepada kita dengan jelas tentang keutamaan dan kemuliaan tauhid.

Yaitu barang siapa yang mengucapkan dua kalimat syahadat disertai dengan mengetahui maknanya dan mengamalkan kandungannya secara lahir dan batin, kemudian dia juga menjauhi sikap berlebihan dan sikap merendahkan kepada dua nabi yang mulia yaitu 'Isa dan Muhammad 'alaihima asholatu wasallam, yakni dia menetapkan kerasulan dan penghambaan keduanya kepada Allah, serta keduanya tidak memiliki sedikitpun kekhususan rububiyah, dia juga meyakini adanya surga dan neraka, maka tempat kembali orang ini adalah surga walaupun dia berbuat kemaksiatan selain syirik.

Pelajaran Yang Diambil Dari Hadits:

1. Keutamaan tauhid dan karenanya Allah mengampuni dosa-dosa.

2. Luasnya keutamaan dan kebaikan Allah subhanahu wa ta'ala.

3. Wajibnya menjauhi sikap berlebihan dan merendahkan pada para nabi dan orang shalih. Sehingga kita tidak boleh mengingkari keutamaan mereka dan tidak boleh ghuluw (melampaui batas) kemudian memberikan sebagian ibadah kepada mereka. Sebagaimana hal itu dilakukan sebagian orang bodoh dan sesat.

4. Aqidah tauhid menyelisihi seluruh agama kekufuran, baik yahudi, nashara, penyembah berhala maupun penyembah masa.

5. Pelaku maksiat dari kalangan ahli tauhid, tidaklah kekal di neraka.

Bersambung insya Allah...

(Mulakhos Syarh Kitab At-Tauhid hal:24-25)
Diterjemahkan Oleh: Redaktur Saalikat

•Dipublikasikan: Rabu, 05 Dzulhijjah 1437 H / 07 September 2016 M​

Saalikat Manhaj Salaf

» http://saalikatmanhajsalaf.blogspot.co.id/
» bit.ly/Saalikat_ManhajSalaf

This entry was posted in